Minggu, 13 November 2011

LAPORAN PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA KODOK (Bufo sp) & KATAK (Rana sp)


Disusun Oleh :

KHAIRUL AZIZ
NIM : 59461168
Kelompok : IV
Tarbiyah / Ipa-Bio. A / Semester 4






LABORATORIUM BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON

2011

KODOK (Bufo sp) & KATAK (Rana sp)
I.       TUJUAN
            Mengamati anatomi, morfologi dan taksonomi dari kodok (Bufo sp) & katak (Rana sp).

II.    DASAR TEORI
Klasifikasi
Kodok
Kingdom                : Animalia
Phylum                  : Chordata
Subfilum                : Vertebrata
Kelas                     : Amphibia
Ordo                      : Anura
Famili                    : Ranidae
Genus                    : Bufo
Spesies                   : Bufo sp
Katak
Kingdom                : Animalia
Phylum                  : Chordata
Subfilum                : Vertebrata
Kelas                     : Amphibia
Ordo                      : Anura
Famili                    : Ranidae
Genus                    : Rana
Spesies                   : Rana sp

Anatomi Eksternal 
Tubuh katak menunjukkan keadaan yang serupa dengan anggota-anggota lain dalam ordonya, menjadi diperpendek oleh karena tidak ada cauda. Caput berujung tumpul, tanpa moncong (rostrum) yang menonjol dan rima oris ialah terminal. Pada dataran dorsal moncongnya tedapat sepasang nares atau lubang hidung yang kecil. Sepasang mata terdapat hampir pada apeks caput, ia berukuran besar dan menonjol. Truncus ialah pendek dan kompak, memipih pada setengah bagian distal yaitu pada daerah yang ditempati vertebrae sacrales. Serupa dengan vertebrata terrestrial lainnya, katak dilengkapi dengan dua pasang extremitates. Cervix (leher) pada katak ialah tidak nyata. Truncus (badan) terletak di sebelah caudal caput, batas antara caput dan truncus pada katak tidak jelas. Ukuran katak betina lebih besar daripada yang jantan.
      Sistem Skeletal 
Sistem skeletal pada Amphibi tersusun atas bagian yang bertulang dan kartilago. Sistem skeletal ini berfungsi untuk melindungi bagian vital pada Amphibi antara lain otak dan  sistem saraf serta sistem yang mengandung organ vital lainnya. Sistem skeletal pada amphibi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu skeleton soma dan skeleton visceral.
      Sistem Otot
      Sistem otot pada Amphibi merupakan sistem otot yang kompleks. Susunan otot-ototnya memperlihatkan banyak modifikasi berhubung dengan gerakan-gerakan kompleks dari ekstremitates. Musculi dorsi tidak lagi terbagi menjadi myomer, tetapi membentuk berkas-berkas longitudinal atau obliqua, sebagian terletak di atas vertebrae sebagian diantara processus transversus, dan sebagian lagi diantara ilia dan urostyles.
Topografi Organ Dalam
  • Cor                              : dexter + sinister (diantara) pulmo
  • Pulmo                          : dexter + sinister (diantara) cor
  • Gland bladder             : cauda cor
  • Hepar                          : cauda dari pulmo
  • Intestinum tenum        : sinister hepar
  • Ventrikulus                 : inferior hepar
  • Ren                              : inferior intestinum tenum
  • Fat body                      : posterior pankreas
  • Testis                           : posterior intestinum
  • Pankreas                      : dexter hepar
  • Intestinum crassum     : dexter ren
  • Kloaka                         : arah cauda
      Sistem Pencernaan
Sistem pencernan  pada Amphibi dimulai dari mulut dan  saluran-salurannya. Lidah pada
mulut Amphibi berfungsi untuk membantu menangkap mangsanya. Saluran pencernaan  pada Amphibi terdiri atas faring, esofagus, perut, usus, dan berakhir pada kloaka. Usus pada Amphibi terdiri atas duodenum, ileum dan usus besar.
Sistem Transportasi
Jantung katak terdiri dari tiga ruang yaitu: atrium kiri, atrium kanan, dan ventrikel (2 atrium, 1 ventrikel). Atrium kanan menerima darah yang miskin oksigen dari seluruh tubuh, sedangkan atrium kiri menerima darah dari paru – paru. Darah dari kedua atrium bersama – sama masuk ventrikel. Walaupun tampaknya terjadi percampuran antara darah yang miskin oksigen dengan darah yang kaya oksigen namun percampiurn diminimalisasi oleh adanya sekat – sekat yang terdapat pada ventrikel. Dari ventrikel, darah masuk ke pembuluh darah yang bercabang tiiga. Arteri anterior mengalirkan darah ke kepala dan ke otak. Cabang tengah (lung aorta) mengalirkan darah ke jaringan internal dan organ dalam badan, sedangkan arteri posterior dilewati oleh darah yang menuju kulit dan paru – paru.Darah vena dari seluruh tubuh mengalir masuk ke sinus venosus dan kemudian mengalir menuju ke atrium kanan. Dari atrium kanan, darah mengalir ke ventrikel yang kemudian di pompa keluar melalui arteri pulmonalis → paru – paru → vena pulmonalis → atrium kanan. Lintasan peredaran darah ini disebut peredaran darah paru – paru. Selain peredaran darah paru – paru, pada katak → sinus venosus → atrium kanan.
      Sistem Urogenital                                         
Sistem urogenital pada Amphibi dibedakan menjadi dua bagian yaitu organ uropoetica dan organ genitalia. Organ uropoetica terdiri dari ginjal, ureter, dan vesica urinaria. Organ genitalia pada hewan jantan terdiri atas sepasang testes, vas deferens, vesikula seminalis dan kloaka. Organ genitalia pada hewan betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, dan kloaka.
Sistem Syaraf
Sistem syaraf katak terdiri atas syaraf pusat dan syaraf tepi. Syaraf pusat terususun atas otak dan tali spinal, sedangkan saraf tepi tersusun atas saraf kranial, saraf spinal. Otak dan tali spinal dibungkus oleh 2 membran yang tebal yaitu durameter yang berbatasan dengan tulang dan pipiamater yang batasan dengan jaringan saraf. Apabila dipandang dari sebelah dorsal, pada otak akan teradapat:
1.      2 lobus olfactorius yang bertanggung jawab untuk organisasi rang sang yang berupa ban.
2.      2 erfhaemisphariumcerebri yang berfungsi menyiompan ingatan, intelegensia dan mengontrol kebebasan.
3.      Diencephalonmedialis yang berhubungan dengan mata dan keseimbangan.
4.      2 bulatan lobus opticus untuk koordinasi pengelihatan.
5.      Otak kecil untuk koordiansi pergerakan.
6.      Medula obongata untuk koordinasi sebagian besar aktifitas tubuh.
Sistem Peredaran Darah Katak
Sistem peredaran darah katak berupa system peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda. Pada system peredaran darah ganda, darah melalui jantung dua kali dalam satu kali peredaran. Pertama, darah dari jantung menuju ke paru-paru kemudian kembali ke jantung. Kedua, darah dari seluruh tubuh menuju ke jantung dan diedarkan kembali ke seluruh tubuh.
Jantung katak terdiri dari tiga ruang, yaitu dua atrium (atrium kanan dan atrium kiri) dan sebuah ventrikel. Di antara atrium dan ventrikel terdapat klep yang mencegah agar darah di ventrikel tidak mengalir kembali ke atrium.
Darah yang miskin oksigen dari berbagai jaringan dan organ-organ tubuh mengalir ke sinus venosus menuju atrium kanan. Darah dari atrium kanan mengalir ke ventrikel, kemudian menuju ke arteri pulmonalis dan masuk ke paru-paru. Di paru-paru, karbon dioksida dilepaskan dan oksigen diikat. Dari paru-paru darah mengalir ke vena pulmonalis, kemudian menuju atrium kiri. Peredaran darah yang terjadi ini merupakan peredaran darah kecil. selanjuntnya, dari atrium kiri darah mengalir ke ventrikel. Di dalam ventrikel terjadi pencampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang mengandung karbon dioksida, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Dari ventrikel, darah keluar melalui traktus arteriosus (batang nadi) ke aorta yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Masing-masing aorta ini bercabang-cabang menjadi tiga arteri pokok, yaitu arterior (karotis) mengalirkan darah ke kepala dank e otak, lengkung aorta mengalirkan darah ke jaringan internal dan alat dalam tubuh, dan arteri posterior mengalirkan darah ke kulit dan paru-paru. Darah katak terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah mengandung air, protein, darah, dan garam-garam mineral. Sel-sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah) dan leukosit (sel darah putih). Eritrosit pada katakmemiliki inti dan mengandung hemoglobin untuk mengikat oksigen. Leukosit pada katak juga memiliki inti. Selain memiliki sitem peredaran darah, katak juga memilki sistem peredaran limfe. System peredaran limfe berperdan penting dalam pengambilan cairan tubuh ke dalam peredaran darah.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat          : Bak preparat, gunting, cutter, pinset, penggaris, alat tulis, kertas gambar,  tissue/lap, cairan chloroform (untuk pembiusan), jarum pentul.
Bahan      : Preparat hewan hidup.

IV. CARA KERJA
1.      Menyiapkan semua peralatan yang akan digunakan.
2.      Melakukan pembiusan pada hewan yang akan diamati.
3.      Mengamati bagian-bagian morfologi tubuhnya, melakukan pengukuran panjang bagian-bagian tubuhnya dari bagian anterior sampai posterior, kemudian menggambarnya.
4.      Melakukan pembedahan terhadap preparat hewan hidup dan mengamati bagian-bagian anatominya dan menggambarnya.
5.      Membuat laporan sementara setelah selesai mengamati.
6.      Merapihkan dan membersihkan meja kerja setelah selesai melakukan praktikum.

V. HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN
Data pengukuran Kodok dan Katak :
No
Pengukuran
Kodok
Katak
1
Panjang badan keseluruhan
15.5 cm
12.5 cm
2
Lebar badan keseluruhan
5 cm
4 cm
3
Panjang kepala
1.7 cm
2.5 cm
4
Lebar kepala
2.5 cm
2 cm
5
Panjang kaki depan/lengan
4.5 cm
3 cm
6
Panjang kaki belakang/tungkai
9 cm
7.5 cm
7
Jumlah jari depan
4
4
8
Jumlah jari belakang
5
5
9
Diameter mata
1 cm
0.6 cm
 
Data perlakuan terhadap Kodok :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi kodok
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak dan mengeluarkan suara
36 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
28 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Kaki bergerak mencoba naik untuk keluar dari gelas ukur
18 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Kaki diam saja tapi bersuara
32 detik

Data perlakuan terhadap Katak :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi katak
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak
13 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
22 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Bergerak
17 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Tidak bergerak
10 detik

Detakan jantung pada Kodok :
            Tanpa alkohol : 100 detakan per menit.
            Ditetesi alkohol : 110 detakan per menit.
Organ Kodok di bagian mulut :
·         Koane : Lubang hidung
·         Membran timpani
·         Gigi runcing : gigi palatum
·         Oscomer : Berupa gerigi yang jumlahnya sepasang
Bagian-bagian yg lain pada Kodok :
·         Peltebra : Kelopak mata membran niktitan
·         Otot musculus, trisep musculanis, dan otot musculus dorsalis
·         Otot pectoralis (di bagian dada)
 
Data perlakuan terhadap Kodok :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi kodok
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak dan mengeluarkan suara
36 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
28 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Kaki bergerak mencoba naik untuk keluar dari gelas ukur
18 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Kaki diam saja tapi bersuara
32 detik

Data perlakuan terhadap Katak :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi katak
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak
13 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
22 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Bergerak
17 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Tidak bergerak
10 detik

Detakan jantung pada Kodok :
            Tanpa alkohol : 100 detakan per menit.
            Ditetesi alkohol : 110 detakan per menit.
Organ Kodok di bagian mulut :
·         Koane : Lubang hidung
·         Membran timpani
·         Gigi runcing : gigi palatum
·         Oscomer : Berupa gerigi yang jumlahnya sepasang
Bagian-bagian yg lain pada Kodok :
1.      Peltebra : Kelopak mata membran niktitan
2.      Otot musculus, trisep musculanis, dan otot musculus dorsalis
3.      Otot pectoralis (di bagian dada)

Data perlakuan terhadap Kodok :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi kodok
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak dan mengeluarkan suara
36 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
28 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Kaki bergerak mencoba naik untuk keluar dari gelas ukur
18 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Kaki diam saja tapi bersuara
32 detik

Data perlakuan terhadap Katak :
No
Perlakuan
Jenis larutan
Reaksi katak
Lama waktu
1
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air es
Bergerak-gerak
13 detik
2
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Air panas/hangat
Bergerak
22 detik
3
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan HCl
Bergerak
17 detik
4
Mencelupkan sebagian tubuh kodok s/d sebagian perut
Larutan NaCl
Tidak bergerak
10 detik

Detakan jantung pada Kodok :
            Tanpa alkohol : 100 detakan per menit.
            Ditetesi alkohol : 110 detakan per menit.
Organ Kodok di bagian mulut :
·         Koane : Lubang hidung
·         Membran timpani
·         Gigi runcing : gigi palatum
·         Oscomer : Berupa gerigi yang jumlahnya sepasang
Bagian-bagian yg lain pada Kodok :
1.      Peltebra : Kelopak mata membran niktitan
2.      Otot musculus, trisep musculanis, dan otot musculus dorsalis
3.      Otot pectoralis (di bagian dada)

Alat pernafasan pada Katak/Kodok
Kulit Kodok
Organ eksternal Katak/Kodok
Organ internal katak/kodok
Pada praktikum yang ke dua ini kami mengamati anatomi, morfologi, dan taksonomi Kodok dan Katak. Pada praktikum yang kedua ini kami mengamati hewan vertebrata dengan kelas amphibia. Setelah minggu kemarin meneliti kelas pisces. Pada kelas amphibia ini kami mengamati Kodok dan Katak karena di Indonesia ini contoh yang paling bisa diamati dari kelas amphibia ini adalah kodok dan katak.
            Pada praktikum kali ini kami mengamati kodok dan katak dengan beberapa perlakuan, pengukuran, serta mengamati anatomi morfologi dan taksonominya, sehingga anggota kelompok pun harus dibagi tugas serta pengamatan pun tidak berjalan tepat waktu karena banyaknya pekerjaan yang harus kami lakukan pada praktikum kali ini.
            Yang pertama saya lakukan sendiri adalah mengukur Kodok dan Katak, pada hasil pengukuran dapat dilihat bahwa katak lebih kecil ukurannya daripada kodok. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa anatomi eksternal dari kodok (Bufo sp.) terdiri dari tiga bagian utama yaitu caput (kepala), cerviks (leher), truncus (badan), dan extrimitas (aggota badan). Bagian caput pada kodok terdiri dari beberapa bagian yaitu rima oris, rostrum, nares anteriores, membrana nictitans, palpebra inferior, palpebra superior, bulbus oculi, dan membrana tympani. Rima oris bagian luar terdiri dari maxilla, mandibula, dan palatum. Rima oris bagian dalam terdiri atas lingua bertipe bifida, nares posteriores, os vomer, dan ostium tubae auditivae.
            Hasil pengamatan menunjukkan bahwa anatomi internal dari kodok (Bufo sp.) terdiri dari beberapa sistem, antara lain sistem sirkulasi, sistem digestive, sistem pernapasan  dan sistem urogenital.
Sistem sirkulasi pada kodok terdiri dari jantung yang dibagi menjadi tiga ruangan yaitu dua atrium dan satu ventrikel, hati yang merupakan tempat perombakan sel darah yang telah rusak atau mati,dan empedu yang berfungsi untuk menetralkan racun. Sistem digestive atau sistem pencernaan pada kodok yang telah diamati, terdiri atas mulut, lambung atau ventriculus, usus kecil, usus besar, dan usus  dua belas jari. Sistem pernapasan  pada kodok yang telah diamati, terdiri dari paru-paru (pulmo) yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas antara gas oksigen dan karbondioksida.
            Sistem urogenital pada kodok yang telah diamati terdiri atas ovarium, karena kodok yang diamati berjenis kelamin betina. Sistem urogenital pada Amphibi dibedakan menjadi dua bagian yaitu organ uropoetica dan organ genitalia. Organ uropoetica terdiri dari ginjal, ureter, dan vesica urinaria. Organ genitalia pada hewan jantan terdiri atas sepasang testes, vas deferens, vesikula seminalis dan kloaka. Organ genitalia pada hewan betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, dan kloaka.
      Ekskretori dan organ reproduksi adalah kesatuan yang tertutup, dan bersama termasuk ke dalam sistem urogenital. Struktur ekskretori sama pada kedua jenis kelamin Bufo sp. Dua ginjal masing-masing dengan kelenjar adrenal di atas permukaan ventral. Ureter terutama dari pinggir posterior ginjal ke kloaka. Kandung kemih yang kosong ke kloaka pada samping ventral dan tubuh lemak. Ginjal adalah organ ekskretori yang besar pada Bufo sp. Mereka bertanggung jawab pada pembersihan  kotoran dalam tubuh, meskipun beberapa kotoran dapat hilang melalui kulit. Ginjal menghilangkan banyak sisa nitrogen dalam darah, yang mengeluarkan cairan sebagai urea dan ammonia. Organ penting ini juga memainkan peranan dalam pengaturan homeostasis, yang dapat menjaga kestabilan lingkungan dalam dengan menghilangkan ion yang berlebihan dan substansi lain dari darah dan melalui penghematan substansi tersebut dari ketersediaan yang terbatas.
Pada Bufo sp betina,  letak dari satu sisi ovary berhimpitan secara dorsal dan dihentikan sampai ke selom oleh mesentery. Oviduk yang menggulung dengan bentuk corong yang membuka, ostium, pada akhir anterior, dan uterus, pembesaran dekat dengan  kloaka. Sedangkan pada kodok jantan, letak dua testes ditutupi dari dinding dorsal abdominal oleh mesentary, dan beberapa vasa efferentia, pembuluh kecil yang membawa sperma dari testes menuju ke ginjal. Sperma yang dibawa dari ginjal ke kloaka melalui ureter, yang berfungsi sebagai sebagai saluran genital pada kodok jantan. Kodok jantan leopard juga sering memiliki vestigial oviduk di sepanjang sisi ginjal. Ketika mendekati masa dewasa, telur keluar dari ovaries, menuju ke selom dan melalui ostia untuk menuju oviduk. Telur yang terdapat pada oviduk, ditutupi oleh beberapa lapisan dari bahan seperti jeli yang disekresikan oleh kelenjar dalam dinding oviduk. Telur-telur berkumpul dalam uteri sebelum dilepaskan melalui kloaka dan menuju ke air. Pada fertilisasi eksternal kodok jantan menaiki kodok betina dan melepaskan sperma di atas telur yang mereka lepaskan. Perkawinan ini disebut amplexus.
Perbedaan Bufo sp. Dan Rana sp.
Rana sp dan Bufo sp adalah dua contoh spesies dari Anura yang sering dipelajari. Tubuh Rana dan Bufo dewasa pada umumnya dibedakan atas kepala, badan dan anggota gerak. Bufo mempunyai badan berbentuk bulat, sedangkan badan Rana berbentuk langsing memanjang. Rana mempunyai penonjolan pada tempat persendian antara columna vertebralis dengan gelang panggul. Ujung posterior badan terdapat kloaka. Kulit Bufo berbintil-bintil kasar dan kering, sedangkan pada Rana dapat berwarna karena  adanya kromatofor yang terdiri atas melanofor yang mengandung pigmen hitam dan coklat, serta lipo yang mengandung pigmen merah, kuning, dan orange.

VI. KESIMPULAN
·         Tubuh kodok terdiri dari empat bagian yaitu caput, cerviks, truncus dan extrimitates.
·         Bagian caput pada kodok terdiri dari beberapa bagian yaitu rima oris, rostrum, nares anteriores, membrana nictitans, palpebra inferior, palpebra superior, bulbus oculi, dan membrana tympani.
·         Sistem sirkulasi pada kodok terdiri dari jantung yang dibagi menjadi tiga ruangan.
·         Sistem urogenital pada kodok yang telah diamati terdiri atas ovarium.
·         Bufo mempunyai badan berbentuk bulat, sedangkan badan Rana berbentuk langsing memanjang.
·         Kulit Bufo berbintil-bintil kasar dan kering, sedangkan pada Rana dapat berwarna karena  adanya kromatofor yang terdiri atas melanofor yang mengandung pigmen hitam dan coklat, serta lipo yang mengandung pigmen merah, kuning, dan orange.


DAFTAR PUSTAKA
Amfibia. Redaksi Ensiklopedi Indonesia, Jakarta. PT. Intermasa
Campbell et al, BIOLOGI, Erlangga. Jakarta 2003
Iskandar, D.T. Amfibi Jawa-Bali. Bandung. Puslitbang Biologi-LIPI 1998