Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Kalajengking (Makalah)


MAKALAH
KALAJENGKING

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Zoologi Avertebrata
Dosen : Eka Fitriah, S.Si. M.Pd




Disusun Oleh :
KHAIRUL AZIZ  (59461168)
Tarbiyah / Ipa-Bio. A / Semester 3



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2010






KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah tentang ’Kalajengking’ tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “Zoologi Avertebrata”. Makalah ini merupakan sekelumit tentang pesies kalajengking, semoga makalah ini dapat berguna untuk Mahasiswa pada umumnya.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Eka Fitriah, S.Si. M.Pd  selaku dosen mata kuliah ulum Al-quran atas bimbingan dan pengarahannya selama penyusunan makalah ini serta pihak-pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pada intinya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang dapat lebih baik lagi.




Cirebon, 07 November 2010


                                                                        Penulis 






PENDAHULUAN
            Kalajengking purba muncul pada pertengahan Masa Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Berbeda dengan kalajengking pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba juga hidup di air.
            Namun pada laporan kali ini penulis akan mengajak mengamati kalajengking di zaman sekarang sekarang tentunya, baik dari habitat, cirri-ciri, klasifikasi dan lain sebagainya.
            Untuk itu penulis mengucapkan, selamat datang di dunia Kalajengking.






 PEMBAHASAN
A. Anatomi Kalajengking



B. Karakteristik

         Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba, tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.
          Tubuh kalajengking dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan abdomen. Abdomen terdiri dari mesosoma dan metasoma.
         Abdomen adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di antara thorax atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata lainnya. Pada arthropoda, abdomen adalah bagian paling posterior tubuh, yang berada di belakang thorax atau cephalothorax (sefalotoraks). Dalam bahasa Indonesia umum, sering pula disebut dengan perut. Bagian yang ditutupi atau dilingkupi oleh abdomen disebut cavitas abdominalis atau rongga perut.


C. Racun Kalajengking

    Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik (racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.
Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus sp. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis.

Type: Terrestrial
Origin: Timur Tengah, Afrika Utara, India
Size: lebih dari 9 cm
Temperamen: kadang agresive kadang calm
sesuai dengan jenisnya yaitu jenis "Androctonus", yellow fat-tailed merupakan jenis yg sangat mematikan, walaupun racun nya tidak sekuat Deathstalker ataupun Arabian fat-tailed, racun yellow fat-tailed bisa membunuh seseorang dalam waktu 2 jam apabila tidak segera diberi serumnya (tidak berpengaruh thdp orang dewasa yg sehat). mendapatkan serumnya juga tidak gampang, bahkan di AS saja dalam mendapatkan serumnya sangat sulit.

D. Asal-usul Kalajengking
Kalajengking purba muncul pada pertengahan Masa Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu. Berbeda dengan kalajengking pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba juga hidup di air.
Berikut salah satu jejak fosil kalajengking raksasa :
 



F. Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan    : Animalia
Filum        : Arthropoda
Upafilum    : Chelicerata
Kelas        : Arachnida
Upakelas    : Dromopoda
Ordo        : Scorpiones
1. Superfamilia
•    Pseudochactoidea
•    Buthoidea
•    Chaeriloidea
•    Chactoidea
•    Iuroidea
•    Scorpionoidea

G. Reproduksi Kalajengking
    Kebanyakan kalajengking bereproduksi secara seksual. Namun beberapa spesies, seperti Hottentota, Cabavordensis hottentota, Australasiae liocheles, Colombianus tystus dan Urugaynensis tityus, memperbanyak diri melalui partenogenesis, sebuah proes dimana telur yang tidak dibuahi berkembang menjadi embrio hidup.
    Reproduksi seksual dicapai dengan cara transfer spermatofora dari pejantan ke betina. Kalajengking memiliki ritual seks semalam suntuk dalam pembuahan. Mulai dari kimpoi dengan pejantan, sang betina menemukan dan mengidentifikasi satu sama lain menggunakan campuran feromon dan getaran komunikasi.
    Setelah perkompoian selesai, pejantan dan betinanya akan terpisah, pejantan umumnya akan mundur cepat, kemungkinan besar untuk menghindari kanibalisme oleh sang betina, meskipun kanibalisme ini jarang terjadi pada kalajengking.
 

H. Habitat Kalajengking
    Hidup di darat. Baik rawa-rawa, hutan, padang pasir, pegunungan dan daerah-daerah daratan lainnya.

I. PERANAN
Bisa dan racun tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerja bisa dan racun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Di antaranya untuk penghilang rasa sakit, pengencer darah, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, antikejang bahkan diteliti untuk anti-HIV.
Pemanfaatan bisa dan racun itu dipaparkan oleh Prof P Gopalakrishnakone PhD DSc dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore dalam the 2nd National Symposium “The Recent Advances in Critical Care Management of Trauma Cases” yang diselenggarakan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Sabtu (19/7).
Tak banyak orang tahu khasiat kalajengking bagi pengobatan. Padahal, menurut Dr William Adi Teja, MMed dari Klinik Utomo Chinese Medical Center, Jakarta, semua binatang merayap, termasuk kalajengking, berkhasiat melancarkan peredaran darah.
“Hewan-hewan merayap ampuh untuk mengobati penyumbatan pembuluh darah kronis. Obat-obat dari bahan herbal atau hewan lain tak mampu, tapi binatang merayap ini dapat mengobati keluhan akibat penyumbatan darah,” tutur Dr William.
Selain melancarkan peredaran darah, hewan berbisa dan beracun ini juga mampu menyembuhkan penyakit stroke, jantung, dan sirosis hati. Kata Dr William, bukan racunnya yang dipakai untuk mengobati penyakit, melainkan daging bagian ekor. Itu pun setelah zat racun hewan yang berkembang biak setahun sekali ini dinetralisasi.
Menurut Prof Gopalakrishnakone, PhD, DSc dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore, bisa dan racun kalajengking tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerjanya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan, di antaranya sebagai penghilang rasa sakit, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, dan anti kejang.
Kini sejumlah obat telah dihasilkan dari bisa dan racun alami, misalnya racun botulinum dari bakteri anaerobik yang mencemari makanan kaleng. Racun ini juga dimanfaatkan untuk terapi strabismus (mata juling), blepharospasm (kejang kelopak mata), dan vagisnismus (kekejangan otot vagina). Arvin dari racun ular berbisa digunakan untuk mengatasi gangguan penggumpalan darah.
Dijelaskan oleh Gopalakrishnakone, pada tahun 1998 Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mengkaji dan menyetujui peredaran empat obat berbahan dasar racun, baik bisa ular, kalajengking, laba-laba, maupun kerang kerucut. Racun dan bisa itu adalah aggrostatin untuk mengobati angina, captopril untuk tekanan darah tinggi, conotoxin untuk anestesi saraf tulang belakang, dan chlorotoxin untuk pengobatan tumor otak.
Sayangnya, kata Dr William, kandungan kimiawi hewan yang dapat hidup hingga 5 tahun ini belum diketahui lebih lanjut. Meski demikian, dalam teori pengobatan traditional chinese medicine, kalajengking merupakan salah satu jenis serangga, bersama kelabang dan kecoak, yang paling banyak digunakan masyarakat China untuk pengobatan.
Sementara itu, untuk mengobati sakit akibat sengatan hewan ini, masyarakat Jawa secara turun-temurun selalu menyiramnya dengan amonia atau air seni. Hal itu akan menghilangkan rasa sakit dan bengkak akibat gigitan hewan ini.
 



                                                                      DAFTAR PUSTAKA
Kimball, JW. 2010. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta
Reece-Mitchel, C. 2003. BIOLOGI. Erlangga. Jakarta
http://bintangkarang.blogspot.com/2009/08/berbagai-macam-jenis-kalajengking-yang.html
http://faridbj.blogspot.com/2010/02/kalajengking-obati-gangguan-peredaran.htm
http://lapakabardunia.com/post
http://id.wikipedia.org/wikiAbdomen
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalajengking




Minggu, 06 November 2011

KINERJA GURU BK DI SMA 5 AL-AZHAR KOTA CIREBON (LAPORAN OBSERVASI)

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Keberadaan Bimbingan dan Konseling kian diakui secara sehat oleh pemerintah dan juga masyarakat luas. Pengakuan ini terus mendorong perlunya tenaga profesional yang secara khusus dipersiapkan untuk menyelenggarakan layanan konseling.  

Lebih lanjut pengakuan ini secara eksplisit telah ditetapkan dalam berbagai peraturan dan perundangan lainya diantaranya:


“Pelayanan bimbingan dan konseling sebagai salah satu layanan pendidikan yang harus diperoleh semua peserta didik telah termuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar dan Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah.”

 “Konselor” sebagai salah satu jenis tenaga kependidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Bab I pasal 1 butir  6 dinyatakan bahwa “pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan”

Pelayanan konseling yang merupakan bagian dari kegiatan pengembangan diri telah termuat dalam struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22  Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Menengah.

Beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor pada Pasal 54 ayat (6) Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yang menyatakan bahwa beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan. Lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 54 ayat (6) yang dimaksud dengan “mengampu layanan bimbingan dan konseling” adalah pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan memerlukan.

Penilaian kinerja Guru bimbingan dan konseling (konselor) pada Pasal 22 ayat (5) Peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 tahun 2010 tentang petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dinyatakan bahwa penilaian kinerja Guru bimbingan dan konseling (konselor) dihitung secara proporsional berdasarkan beban kerja wajib paling kurang 150 (seratus lima puluh) orang siswa dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) orang siswa per tahun.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, yang  menyatakan bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: (i) sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling ; (ii) berpendidikan profesi konselor. Kompetensi konselor meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, yang berjumlah 17 kompetensi dan 76 sub kompetensi. 

Keberadaan Bimbingan dan Konseling yang kian diakui secara sehat oleh pemerintah membuat sekolah-sekolah mencari konselor-konselor yang handal, begitu juga dengan SMA 5 Al-Azhar Kota Cirebon. SMA Al-Azhar merupakan salah satu SMA swasta favorit di Kota Cirebon, maka dari itu kami ingin mengetahui bagaimana kinerja Konselor di sekolah tersebut.

B. Pertanyaan Penelitian

Perumusan penelitian ini disusun dengan bentuk pertanyaan sebagaimana berikut:
  1.  Bagaimana Tujuan Bimbingan Konseling di SMA 5 Al-Azhar? 
  2. Bagaimana Pola Kerja Bimbingan Konseling di SMA 5 Al-Azhar?
 
          C. Tujuan Penelitian
  1. Mengenal dan Mendeskripsikan Tujuan Bimbingan Konseling di SMA 5 Al-Azhar. 
  2. Menjelaskan Pola Kerja Bimbingan Konseling di SMA 5 Al-Azhar.
          D. Manfaat Penelitian
Manfaat Observasi berupa Laporan Kualitatif ini diharapkan:
  1. Untuk mengetahui tujuan Bimbingan Konseling. 
  2. Untuk mengetahui Pola Kerja Bimbingan Konseling yang baik dan benar

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
 
 

       Bahwa tinjauan pustaka dimaksudkan studi kepustakaan, Studi Kepustakaan dikemukakan oleh Udin S. 2005 ; 90 adalah menganalisis dan menafsirkan sebuah data tidak akan terlepas dari seberapa referensi yang dikuasai penulis, untuk menganalisis yang dilakukan maka sangat penting dilakukan studi kepustakaan, dilakukan dengan menggali dan mendapatkan informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti melalui penelaahan berbagai konsep atau teori yang dikemukakan para ahli, sehingga akan dapat mendukung pelaksanaan penelitian.

            Adapun analisis pustaka ini dengan uraian pada bab ini meliputi: A. Tujuan Diberikannya Bimbingan Konseling, B. Mengetahui fungsi layanan Bimbingan dan Konseling

A.      Tujuan diberikannya Bimbingan Konseling
  1.  Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
  2.  Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko. 
  3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri 
  4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif. 
  5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain 
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial 
  7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif 
  8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif. 
  9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir. 
  10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.

B.      Mengetahui fungsi layanan Bimbingan dan Konseling
1. fungsi pemahaman
Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistic 
2. fungsi preventif
Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
      3.  fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
      4. fungsi kuratif
Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)

BAB III

METODE PENELITIAN

A.      Subjek penelitian
Lokasi                    : Jl. Pilang Setrayasa Raya No.31 Cirebon
Waktu                    : 25 Mei 2011
Nama Sekolah       : SMA ISLAM AL-AZHAR 5 KOTA CIREBON
Nomor Telp./Fax   : 0231-244751
E-Mail                   : smaialazhar5@yahoo.co.id

B.      Tahap-tahap penelitian
  1.  Perumusan Masalah 
  2. Informasi yang Diperlukan 
  3. Prosedur Pengumpulan Data 
  4. Prosedur Pengolahan Informasi 
  5. Menarik Kesimpulan Penelitian

C.      Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan Metode Penelitian Deskripsi
 
 
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS
A.      Hasil dan Analisis
  a.       Identitas Guru BK
1)      Nama                    : H. Nasir MPd
Pendidikan            : - S1 di IAIN Jurusan Hukum Peradilan Agama
-          S2 di UPI Jurusan Bimbingan Konseling
Motto                    : Bekerja Profesional dan Ikhlas
jk, pendidikan dsb)
  b.       Hasil wawancara
a)      Pelaksanaan
Pelaksanaan wawancara bersama Guru BK di SMA Al-Azhar dilakukan pada tanggal 25-05-2011 bertempat di Ruangan BK SMA Al-Azhar, Pembicara pada wawancara saat itu ialah Bpk. H Nasir MPd
b)  Hasil wawancara
       Pada wawancara yang kami lakukan, kami bertanya bermacam-macam tentang BK di sekolah tersebut, adapun hasil wawancara akan saya paparkan dalam bentuk deskripsi;
       Guru BK di SMA Al-Azhar ada dua yaitu Bpk Nasir serta Ibu Sri (Lulusan Psikolog UGM) Pak Nasir bertugas menangani siswa kelas X dan XI IPS sementara Bu Sri bertugas menangani siswa kelas XII dan XI IPA. Jumlah Siswa di SMA Al-Azhar berjumlah 450 siswa. Terdapat 17 pola kerja BK diantaranya adalah; cara menangani masalah, melakukan kunjungan ke rumah, melakukan kerjsasama dengan yang lain. Di SMA Al-Azhar ini terdapat 35 guru. Masalah yang dihadapi di SMA Al-Azhar adalah Kemalasan. BK mempunyai program harian, mingguan dan tahunan

B.      Pembahasan
Seorang konselor professional harus memahami prinsip-prinsip dasar pertumbuhan dan perkembangan manusia dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi proses konseling; memahami dan mampu menjelaskan bagaimana budaya yang bervariasi dapat mempengaruhi proses konseling; memahami teori-teori konseling yang utama dan hubungan antara prosedur dan tekniknya; pendekatan yang digunakan dalam konseling konsisten dengan nilai dan keyakinan konselor; membangun, dan memelihara hubungan yang terjalin baik dengan klien; menerapkan keterampilan dasar konseling; melakukan interview saat konseling; melakukan sesi konseling dengan tahapan-tahapan kerja; keterampilan mengakhiri hubungan konseling; mengases klien dengan selayaknya; melihat konseling sebagai hal yang mempengaruhi klien; menyadari dan merespon selayaknya keterbatasan pribadi dan keterbatasan professional; menjaga kode etik dan standar resmi dan membangun kepercayaan. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang guru pembimbing sebagai pelaksana kegiatan konseling perorangan di sekolah, haruslah benar-benar memahami tugas seorang konselor
  


BAB V

PENUTUP

A.      Kesimpulan
  1. Keberadaan Bimbingan dan Konseling kian diakui secara sehat oleh pemerintah dan juga masyarakat luas. 
  2. seorang konselor professional harus memahami prinsip-prinsip dasar pertumbuhan dan perkembangan manusia dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi proses konseling 
  3. seorang guru pembimbing sebagai pelaksana kegiatan konseling perorangan di sekolah, haruslah benar-benar memahami tugas seorang konselor


DAFTAR PUSTAKA 

Hansen, James C. 1977. Counseling Theory and Process. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Prayitno. 1998. Konseling Pancawaskita. Padang: BK FIP UNP.

Sofyan .S. Willis. 2007. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Taufik. 2002. Model-model Konseling. Padang: BK FIP UNP.

http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com

Udin Syaefudin Sa’ud, M.Ed, Ph.D, dan Abin Syamsuddin Makmun. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensip, Rosda, 2005